Advertisement

Latest News

Tampilkan postingan dengan label Al Quran. Tampilkan semua postingan



Surah Ya sin adalah surah ke-36 dalam Al-Quran yang terdiri atas 83 ayat. surah ini termasuk surah makkiyyah. Pokok-pokok surah Ya sin meliputi akidah umat sebelum Nabi Muhammad saw, perjuangan Rasul-rasul Allah SWT dalam menyampaikan risalah kenabian, Keagungan Allah SWT dan keanekaragaman perilaku manusia

Surah Ya sin dimulai dengan sumpah Allah SWT, yang menegaskan bahwa Nabi Muhammad saw adalah hamba dan utusan Allah SWT untuk memperingatkan semua manusia yang belum diperingatkan pada masa sebelumnya.

Menurut Ibnu 'Abbas r.a dan riwayat lain, kalimat Ya sinmerupakan salah satu dari: Sumpah Allah SWT, Nama Allah SWT, nama AL-Quran atau nama Nabi Muhammad saw.

Banyak ulama menganjurkan untuk terus menerus membaca surah Ya sin, terutama pada malam jumat, Nabi Muhammad saw bersabda mengenai keutamaan surah Ya sin:
1. "Hati Al-Quran adalah Surah Ya sin, Allah SWT mencatatkan pahala bagi pembacanya sebanding dengan membaca Al-Quran sepuluh kali."
2. "Barang siapa membaca surah Ya sin pada malam jumat, maka Allah SWT memberikan keimanan yang kukuh."
3. "Barang siapa membaca surah Ya sin pada suatu malam karena mengharapkan ridha Allah SWT maka Allah SWT mengampuni dosa-dosanya yang lampau dan keesokan harinya."
4. "Barang siapa membaca surah Ya sin, maka Allah SWT menolakkan segala keburukan dan memenuhi segala kebutuhannya."
5. "Barang siapa membaca surah Ya sin di depan orang yang sedang menghadapi sakratulmaut, maka Allah SWT meringankan dan memudahkan keluarnya roh."
6. "Barang siapa berziarah ke kuburan, lalu membaca surah Ya sin, maka Allah SWT meringankan siksa seluruh ahli kubur pada waktu itu. Selanjutnya, pembaca surah Ya sin memperoleh pahala yang sama dengan jumlah pahala ahli kubur yang ada."


Surah Al-Kahfi adalah surah ke-18 dalam Al-Quran yang terdiri atas 110 ayat. Surah ini termasuk surah Makkiyyah. Rasulullah saw menjelaskan keutamaan bagi pembaca surah Al-Kahfi pada malam jumat, siang hari jumat atau waktu lainnya:
1. Allah SWT memberikan cahaya dan pengampunan dosa sampai hari jumat berikutnya
2. Para malaikat memintakan Rahmat sampai waktu subuh sehingga Allah SWT menjauhkannya dari penyakit panas, penyakit yang tidak tersembuhkan, serta terhindar dari fitnah dan tipu daya setan
3. Allah SWT memberikan ketentraman hidup


Oleh : Ustadz Alfi Syahar M.A
  1. MEMAHAMI AYAT DENGAN AYAT
Menafsirkan satu ayat Alquran dengan ayat Alquran yang lain, adalah jenis penafsiran yang paling tinggi. Karena ada sebagian ayat Alquran itu menerangkan makna ayat-ayat yang lain. Contohnya ayat, yang artinya : “ Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak pernah merasa cemas dan tidak pula merasa bersedih hati.” [QS.Yunus : 62].

Lafadz Auliya’ (wali-wali), ditafsirkan dengan ayat berikutnya yang artinya : “ Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa.” [QS.Yunus : 63].

Berdasarkan ayat di atas maka setiap orang yang benar-benar mentaati perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya, maka mereka itu adalah Wali Allah. Tafsiran ini sekaligus sebagai bantahan orang-orang yang mempunyai anggapan, bahwa Wali itu ialah orang yang mengetahui perkara-perkara ghaib, memiliki kesaktian, di atas kuburnya terdapat bangunan kubah yang megah, atau keyakinan-keyakinan yang bathil yang lain. Dalam hal ini, Karomah bukan sebagai syarat untuk membuktikan orang itu wali atau bukan. Karena Karomah itu bisa saja tampak bisa juga tidak.

Adapun hal –hal yang aneh yang ada pada diri sebagian orang-orang sufi dan orang-orang Ahli Bid’ah, adalah sihir, seperti yang sering terjadi pula pada orang-orang Majusi di India dan lain sebagainya. Itu sama sekali bukan Karomah, tetapi sihir seperti yang di firmankan Allah, artinya : “Terbayang kepada Musa, seolah-olah ia merayap cepat lantaran sihir mereka.” [QS. Thaha :66].
  1. MEMAHAMI ALQURAN DENGAN HADITS YANG SHAHIH
Menafsirkan ayat Alquran dengan hadits shahih sangatlah penting, bahkan harus. Allah menurunkan Alquran kepada Rasulullah tidak lain supaya diterangkan maksudnya kepada semua manusia. Firman Allah, yang artinya : “… Dan Kami turunkan Alquran kepadamu (Muhammad) supaya kamu terangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka agar mereka pikirkan.” [QS. An-Nahl : 44].
Rasulullah bersabda yang artinya : “ Ketahuilah, aku sungguh telah diberi Alquran dan yang seperti Alquran bersama-sama.” [HR. Abu Daud].
Berikut beberapa contoh Tafsirul ayat bil hadits :
  1. Ayat yang artinya : “ Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik ( Syurga) dan tambahannya.” [QS.Yunus : 26].
Tambahan di sini menurut keterangan Rasulullah, ialah berupa kenikmatan melihat Allah. Beliau bersabda yang artinya : “ Lantas tirai itu terbuka sehingga mereka dapat melihat Tuhannya, itu lebih mereka sukai dari pada apa-apa yang di berikan kepada mereka. “ kemudian Beliau membaca ayat ini. [HR.Muslim].
  1. Ketika turun ayat, yang artinya : “ Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukan iman mereka dengan kedzaliman …” [QS. Al-An’am : 82]
Menurut Abdullah bin Mas’ud, para Sahabat merasa keberatan karenanya. Kemudian mereka pun bertanya , “ Siapa di antara kami yang tidak mendzalimi dirinya ya Rasul ?” Beliau menjawab, “ Bukan itu maksudnya. Tetapi yang dimaksud kedzaliman di ayat itu adalah Syirik. Tidakkah kalian mendengar ucapan Luqman kepada putranya yang artinya : “ Wahai anakku, janganlah engkau menyekutukan Allah. Karena perbuatan Syirik (menyekutukan Allah) itu sungguh kedzaliman yang sangatlah besar.” [HR. Muslim].

Dari ayat dan hadits itu dapat di ambil kesimpulan : Kedzaliman itu urutannya bertingkat-tingkat. Perbuatan maksiat itu tidak disebut Syirik. Orang yang tidak menyekutukan Allah, mendapat keamanan dan petunjuk.
  1. MEMAHAMI AYAT DENGAN PEMAHAMAN SAHABAT
Merujuk kepada penafsiran Sahabat terhadap ayat-ayat Al Qur’an seperti Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Mas’ud sangatlah penting sekali untuk mengetahui maksud suatu ayat. Karena, disamping senantiasa menyertai Rasulullah, mereka juga belajar langsung dari Beliau. Berikut ini contoh Tafsir dengan ucapan Sahabat, tentang ayat yang artinya : “ Yaitu Tuhan yang Maha Pemurah yang bersemayam di atas ‘Arsy.” [QS. Thaha : 5].

Al Hafidz Ibnu Hajar di dalam kitab Fathul Baari berkata, Menurut Ibnu ‘Abbas dan para Ahli Tafsir lain, Istiwa itu maknanya Irtafa’a (naik atau meninggi).
  1. HARUS MENGETAHUI GRAMATIKA BAHASA ARAB
Tidak di ragukan lagi, untuk bisa memahami dan menafsirkan ayat-ayat Alquran , mengetahui gramatika bahasa arab sangatlah penting. Karena Alquran diturunkan dalam bahasa Arab.
Firman Allah yang artinya : “ Sungguh kami turunkan Alquran dengan bahasa Arab supaya kamu memahami.” [QS. Yusuf : 2].

Tanpa mengetahui bahasa arab, tidak mungkin bisa memahami makna ayat-ayat Al qur’an. Sebagai contoh ayat : Tsummas tawaa ilas samaa’i. makna Istiwa ini banyak di perselisihkan. Kaum Mu’tazilah mengartikannya menguasai dengan paksa. Ini jelas penafsiran yang sangat keliru. Tidak sesuai dengan bahasa arab. Yang benar, menurut pendapat para Ahli Sunnah Wal Jama’ah, Istiwaa artinya ‘ala wa Irtafa’a (meninggi dan naik). Karena Allah mensifati dirinya dengan Al-‘Ali (Maha Tinggi).

Anehnya banyak orang penganut faham Mu’tazilah yang menafsiri lafadz Istawa denganIstaula. Pemaknaan seperti ini banyak tersebar di dalam kitab-kitab Tafsir, Tauhid dan ucapan-ucapan orang. Mereka jelas mengingkari ke-Maha Tinggian Allah yang jelas-jelas tercantum dalam ayat-ayat Al Qur’an dan Hadits-hadits yang shahih, perkataan para sahabat dan para Tabi’in, mereka mengingkari bahasa Arab di mana Alquran diturunkan dengan bahasa itu. Al Imam Ibnu Al Qayyim berkata, Allah memerintahkan orang-orang Yahudi supaya mengucapkan “Hitthotun” (bebaskan kami dari dosa), tapi mereka rubah menjadi “Hinthotun” (biji gandum). Ini sama dengan kaum Mu’tazilah yang mengartikan Istiwa dengan arti Istaula.

Contoh kedua, pentingnya bahasa arab dalam menafsirkan suatu ayat, misalkan ayat yang artinya : “ Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Ilah ( yang Haq ) melainkan Allah…” [QS. Muhammad : 19].
Ilah artinya Al Ma’bud ( yang di sembah) maka kalimat Laa ilaaha Illallaah, artinya La Ma’buuda illallaah (tidak ada yang patut di sembah kecuali Allah). Sesuatu yang di sembah selain Allah itu banyak ; Orang-orang Hindu di India menyembah sapi. Pemeluk Nashrani menyembah ‘Isa Al Masih, tidak sedikit dari kaum muslimin sangat di sesalkan karena menyembah para wali dan berdo’a meminta sesuatu kepadanya. Padahal, dengan tegas Rasulullah berkata, Artinya :” Do’a itu ibadah.” [HR.Tirmidzi].

Karena sesuatu yang dijadikan sesembahan oleh manusia banyak macamnya, maka dalam menafsirkan ayat diatas harus ditambah dengan kata Haq sehinggan maknanya menjadi Laa Ma’buuda Haqqon Illallaah ( tidak ada sesembahan yang Haq kecuali Allah). Dengan begitu, semua sesembahan-sesembahan yang bathil yakni selain Allah, keluar atau tidak masuk dalam kalimat tersebut. Dalilnya ialah ayat berikut, yang artinya : “ Demikianlah, karena sesungguhnya Allah. Dialah yang Haq. Dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah itulah yang bathil.” [QS. Luqman : 30].

Dengan di artikannya makna Ilah menjadi Al Ma’buud, maka jelaslah kekeliruan kebanyakan kaum muslimin yang berkeyakinan bahwa Allah ada di mana-mana dan mengingkari ketinggian Nya di atas ‘Arsy dengan memakai dalil ayat berikut ini, yang artinya : “ Dan Dialah Tuhan di langit dan Tuhan di Bumi.” [QS. Az-Zukhruf : 84].

Sekiranya mereka mamahami arti Ilah dengan benar, niscaya mereka tidak memakai dalil ayat tersebut. Yang benar, seperti yang telah di terangkan di atas, Al Ilah itu artinya Al Ma’buud sehingga ayat itu artinya menjadi : “ Dan Dialah Tuhan (yang disembah) di langit dan Tuhan (yang disembah) di Bumi.”

Contoh ke tiga, pentingnya Gramatika bahasa arab untuk supaya bisa menafsirkan ayat dengan benar, ialah mengetahui ungkapan kata akhir tapi didahulukan, dan kata depan namun ditaruh di akhir kalimat. Sebagai contoh, Firman Allah : “ Iyyaaka na’budu wa Iyyaaka nasta’in.” Artinya : “Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu pula kami memohon pertolongan.” [QS Al Fatihah : 5].

Di dahulukan kata Iyyaaka atas kata kerja Na’budu dan Nasta’in, ialah untuk pembatas dan pengkhususan, maka maksudnya menjadi Laa Na’budu illa iyyaaka walaa nasta’iinu illa bika yaa Allah, wanakhusshuka bil ‘ibaadah wal ‘Isti’aanah wahdaka. ( kami tidak menyembah siapa pun kecuali hanya kepada-Mu. Kami tidak memohon pertolongan kecuali hanya kepada-Mu, ya Allah. Dan hanya kepada-Mu saja kami memohon beribadah serta memohon pertolongan).
  1. MEMAHAMI NASH AL QUR’AN DENGAN ASBABUN NUZUL
Mengetahui Asbabun Nuzul (peristiwa yang melatari turunnya ayat) sangat membantu sekali dalam memahami Alquran dengan benar.

Sebagai contoh, ayat yang artinya : “ katakanlah : panggilah mereka yang kamu anggap sebagai (Tuhan) selain Allah, mereka tidak akan meiliki kekuasaan untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula memindahkannya. Orang-orang yang mereka seru itu juga mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara meraka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan Rahmat-Nya, serta takut akan Adzb-Nya. Karena adzab Tuhanmu itu sesuatu yang mesti ditakuti.” [QS.Al-Israa’ :56-57].

Ibnu Mas’ud berkata : Segolongan manusia ada yang menyembah segolongan Jin, lantas sekelompok Jin utu masuk Islam. Karena yang lain tetap bersikukuh dengan peribadahannya, maka turunlah ayat “ Orang-orang yang mereka seru itu juga mencari jalan kepada Tuhan Mereka [Muttafaqun’Alaihi].

Ayat itu sebagai bantahan terhadap orang-orang yang menyeru dan bertawassul kepada para Nabi atau para Wali. Namun, sekiranya orang-orang itu bertawassul kepada keimanan dan kecintaan mereka kepada para Nabi atau Wali, maka Tawassul semacam ini di bolehkan.

Wallahu’alam bis Showab


Maraji’ : Kaifa Nafhamul Qur’an, oleh : Muhammad ibnu Jamil Zainu

Sumber: http://www.belajarislam.com



Surat-surat Dalam Al Quran terbagi dalam dua kelompok:


1. Surat Makkiyah, yakni yang ayat-ayatnya diturunkan di Mekah (sebelum Nabi Muhammad Hijrah). Jumlahnya 86 surat atau 19/30 dari isi Al Quran. Ciri-siri suratnya: ayat-ayatnya pendek, kebanyakan diawali dengan seruan "yaa ayyuhannas" (wahai manusia), dan umumnya menerangkan masalah keimanan, perintah, ancaman, pahala dan kisah-kisah umat terdahulu agar dijadikan contoh bagi umat Muhammad saw.

2. Surat Madaniyyah, yakni yang ayat-ayatnya diturunkan di Madinah (setelah Nabi Muhammad Hijrah). Jumlahnya 28 surat atau 11/30 dari isi Al Quran. Ciri-cirinya: ayat-ayatnya panjang-panjang, kebanyakan diawali dengan seruan "ya ayyuhanlladzina aamanu" (wahai orang-orang yang beriman), dan pada umumnya menerangkan tentang peraturan bermasyarakat, ketatanegaraan, serta masalah-masalah keduniawian lainnya.

Al Quran berisi 114 surat, dan terdiri 6236 ayat. Sebagian ulama mengatakan, jumlah ayat Al Quran 6666. Jumlah kalimatnya menurut hitungan sebagian para ahli tercatat 74.437 dan hurufnya sebanyak 325.345.

Ditinjau dari panjang pendeknya, surat-surat dalam Al Quran dikelompokkan menjadi empat bagian:
  1. Assab'uthrhiwaal, yakni tujuh surat yang sangat panjang. terdiri dari Al-Baqarah, Ali Imran, An Nisaa', Al-'Araaf, Al-An'am, Al Maidah, dan Yunus.
  2. Al-Miuun, yakni surat-surat yang panjangnya lebih dari seratus ayat, seperti Huud, Yusuf, Mu'min, dan sebagainya
  3. Al-Matsani, yakni surat-surat yang berisi kurang dari seratus ayat, seperti Al-Anfaal, Al-Hijr, dan sebagainya
  4. Al-Mufashshal, yakni surat-surat pendek, seperti Adh-Dhuha, Al-Ikhlas, AL-Falaq, An-Naas, dan sebagainya.

114 Surat yang terdapat dalam Al Quran, sebagai berikut:

No.Nama SurahBahasa ArabArti NamaAyatTempat TurunUrutan Pewahyuan
1Surah Al-FatihahالفاتحةPembukaan7Mekkah5
2Surah Al-BaqarahالبقرةSapi Betina286Madinah87
3Surah Ali 'Imranآل عمرانKeluarga 'Imran200Madinah89
4Surah An-Nisa'النّساءWanita176Madinah92
5Surah Al-Ma'idahالمآئدةJamuan (hidangan makanan)120Madinah112
6Surah Al-An'amالانعامBinatang Ternak165Mekkah55
7Surah Al-A’rafالأعرافTempat yang tertinggi206Mekkah39
8Surah Al-AnfalالأنفالHarta rampasan perang75Madinah88
9Surah At-Taubahالتوبة‎‎Pengampunan129Madinah113
10Surah YunusينوسNabi Yunus109Mekkah51
11Surah HudهودNabi Hud123Mekkah52
12Surah YusufيسوفNabi Yusuf111Mekkah53
13Surah Ar-Ra’dالرّعدGuruh (petir)43Mekkah96
14Surah IbrahimإبراهيمNabi Ibrahim52Mekkah72
15Surah Al-HijrالحجرAl Hijr (nama gunung)99Mekkah54
16Surah An-NahlالنّحلLebah128Mekkah70
17Surah Al-Isra'بني إسرائيلMemperjalankan di waktu malam111Mekkah50
18Surah Al-KahfالكهفPenghuni-penghuni gua110Mekkah69
19Surah MaryamمريمMaryam (Maria)98Mekkah44
20Surah Ta HaطهTa Ha135Mekkah45
21Surah Al-AnbiyaالأنبياءNabi-Nabi112Mekkah73
22Surah Al-HajjالحجّHaji78Madinah & Makkah103
23Surah Al-Mu’minunالمؤمنونOrang-orang mukmin118Mekkah74
24Surah An-NurالنّورCahaya64Madinah102
25Surah Al-FurqanالفرقانPembeda77Mekkah42
26Surah Asy-Syu'ara'الشّعراءPenyair227Mekkah47
27Surah An-NamlالنّملSemut93Mekkah48
28Surah Al-QasasالقصصCerita88Mekkah49
29Surah Al-'AnkabutالعنكبوتLaba-laba69Mekkah85
30Surah Ar-RumالرّومBangsa Romawi60Mekkah84
31Surah LuqmanلقمانKeluarga Luqman34Mekkah57
32Surah As-SajdahالسّجدةSajdah30Mekkah75
33Surah Al-AhzabالْأحزابGolongan-Golongan yang bersekutu73Madinah90
34Surah Saba’سباKaum Saba'54Mekkah58
35Surah FatirفاطرPencipta45Mekkah43
36Surah Ya SinيسYaasiin83Mekkah41
37Surah As-SaffatالصّافاتBarisan-barisan182Mekkah56
38Surah SadصShaad88Mekkah38
39Surah Az-ZumarالزّمرRombongan-rombongan75Mekkah59
40Surah Al-Mu’minالمؤمنOrang yg Beriman85Mekkah60
41Surah FussilatفصّلتYang dijelaskan54Mekkah61
42Surah Asy-SyuraالشّورىMusyawarah53Mekkah62
43Surah Az-ZukhrufالزّخرفPerhiasan89Mekkah63
44Surah Ad-DukhanالدّخانKabut59Mekkah64
45Surah Al-JasiyahالجاثيةYang bertekuk lutut37Mekkah65
46Surah Al-AhqafالَأحقافBukit-bukit pasir35Mekkah66
47Surah MuhammadمحمّدMuhammad38Madinah95
48Surah Al-FathالفتحKemenangan29Madinah111
49Surah Al-HujuratالحجراتKamar-kamar18Madinah106
50Surah QafقQaaf45Mekkah34
51Surah Az-ZariyatالذّارياتAngin yang menerbangkan60Mekkah67
52Surah At-TurالطّورBukit49Mekkah76
53Surah An-NajmالنّجْمBintang62Mekkah23
54Surah Al-QamarالقمرBulan55Mekkah37
55Surah Ar-RahmanالرّحْمنYang Maha Pemurah78Madinah & Mekkah97
56Surah Al-Waqi’ahالواقعهHari Kiamat96Mekkah46
57Surah Al-HadidالحديدBesi29Madinah94
58Surah Al-MujadilahالمجادلةWanita yang mengajukan gugatan22Madinah105
59Surah Al-HasyrالحشْرPengusiran24Madinah101
60Surah Al-MumtahanahالممتحنةWanita yang diuji13Madinah91
61Surah As-SaffالصّفّSatu barisan14Madinah109
62Surah Al-Jumu’ahالجمعةHari Jum’at11Madinah110
63Surah Al-MunafiqunالمنافقونOrang-orang yang munafik11Madinah104
64Surah At-TagabunالتّغابنHari dinampakkan kesalahan-kesalahan18Madinah108
65Surah At-TalaqالطّلاقTalak12Madinah99
66Surah At-TahrimالتّحريمMengharamkan12Madinah107
67Surah Al-MulkالملكKerajaan30Mekkah77
68Surah Al-QalamالقلمPena52Mekkah2
69Surah Al-HaqqahالحآقّةHari kiamat52Mekkah78
70Surah Al-Ma’arijالمعارجTempat naik44Mekkah79
71Surah NuhنوحNuh28Mekkah71
72Surah Al-JinnالجنّJin28Mekkah40
73Surah Al-MuzzammilالمزمّلOrang yang berselimut20Mekkah3
74Surah Al-MuddassirالمدشّرOrang yang berkemul56Mekkah4
75Surah Al-QiyamahالقيمةHari Kiamat40Mekkah31
76Surah Al-InsanالْاٍنسانManusia31Madinah98
77Surah Al-MursalatالمرسلاتMalaikat-Malaikat Yang Diutus50Mekkah33
78Surah An-Naba’النّباBerita besar40Mekkah80
79Surah An-Nazi’atالنّازعاتMalaikat-Malaikat Yang Mencabut46Mekkah81
80Surah 'AbasaعبسIa Bermuka masam42Mekkah24
81Surah At-TakwirالتّكويرMenggulung29Mekkah7
82Surah Al-InfitarالانفطارTerbelah19Mekkah82
83Surah Al-TatfifالمطفّفينOrang-orang yang curang36Mekkah86
84Surah Al-InsyiqaqالانشقاقTerbelah25Mekkah83
85Surah Al-BurujالبروجGugusan bintang22Mekkah27
86Surah At-TariqالطّارقYang datang di malam hari17Mekkah36
87Surah Al-A’laالْأعلىYang paling tinggi19Mekkah8
88Surah Al-GasyiyahالغاشيةHari Pembalasan26Mekkah68
89Surah Al-FajrالفجرFajar30Mekkah10
90Surah Al-BaladالبلدNegeri20Mekkah35
91Surah Asy-SyamsالشّمسMatahari15Mekkah26
92Surah Al-LailالّيلMalam21Mekkah9
93Surah Ad-Duhaالضحى‎‎Waktu matahari sepenggalahan naik (Dhuha)11Mekkah11
94Surah Al-Insyirahالانشراح‎‎Melapangkan8Mekkah12
95Surah At-TinالتِّينِBuah Tin8Mekkah28
96Surah Al-'AlaqالعَلَقSegumpal Darah19Mekkah1
97Surah Al-QadrالْقَدْرِKemuliaan5Mekkah25
98Surah Al-BayyinahالْبَيِّنَةُPembuktian8Madinah100
99Surah Az-Zalzalahالزلزلة‎‎Kegoncangan8Mekkah93
100Surah Al-'Adiyatالعاديات‎‎Berlari kencang11Mekkah14
101Surah Al-Qari'ahالقارعة‎‎Hari Kiamat11Mekkah30
102Surah At-Takasurالتكاثر‎‎Bermegah-megahan8Mekkah16
103Surah Al-'AsrالعصرMasa/Waktu3Mekkah13
104Surah Al-Humazahالهُمَزة‎‎Pengumpat9Mekkah32
105Surah Al-FilالْفِيلِGajah5Mekkah19
106Surah QuraisyقُرَيْشٍSuku Quraisy4Mekkah29
107Surah Al-Ma’unالْمَاعُونَBarang-barang yang berguna7Mekkah17
108Surah Al-KausarالكوثرNikmat yang berlimpah3Mekkah15
109Surah Al-KafirunالْكَافِرُونَOrang-orang kafir6Mekkah18
110Surah An-Nasrالنصر‎‎Pertolongan3Madinah114
111Surah Al-Lahabالمسد‎‎Gejolak Api/ Sabut5Mekkah6
112Surah Al-Ikhlasالإخلاص‎‎Ikhlas4Mekkah22
113Surah Al-FalaqالْفَلَقِWaktu Subuh5Mekkah20
114Surah An-NasالنَّاسِManusia6Mekkah21




PADA masa Nabi Muhammad saw. ayat-ayat Al Quran ditulis oleh para sahabat di kepingan tulang, pelepah-pelepah kurma, dan batu-batu. Ayat-ayat yang tulis oleh sahabat yang satu dan sahabat yang lainnya juga berbeda-beda. Bahkan tidak jarang sahabat yang hanya menghafalkannya. Sehingga pada masa itu ayat-ayat Al Quran boleh dikata tercecer.

Usaha pengumpulan ayat-ayat Al Quran pertama kali dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar ra. atas usul Umar bin Khattab ra. Pertimbangannya ketika itu banyak sahabat yang hafal Al Quran gugur dalam perang. Yang ditugaskan melaksanakan pengumpulan itu, ialah Zaid bin Tsabit dibantu oleh Ubay bin Ka'ab, Ali bin Abi Thalib ra. dan Utsman bin Affan ra. Hasilnya, terkumpullah sayat-ayat Al QUran dalam bentuk Mushshaf.

Setelah Abu Bakar wafat, Mushshaf itu dipindahkan ke rumah Umar sampai selama masa pemerintahannya. Baru kemudian diserahkan kepada, Hafsah, istri Rasulullah sampai masa pembukuan Al Quran yang diprakarsai oleh Ustman bin Affan. Dari Mushshaf yang ditulis pada zaman pemerintahan Ustman itulah Kaum Muslimin dari seluruh dunia menyalinnya.



AL QURAN diturunkan, secara keseluruhan, dalam kurun waktu selama 22 tahun, 2 bulan, dan 22 hari. Penyampaiannya melalui Malaikat Jibril dengan cara:
  1. Malaikat Jibril meresapkan wahyu ke dalam hati Nabi Muhammad saw. Dalam hal ini Nabi tidak melihat kehadiran Jibril, namun merasakan menerima wahyu dari Allah SWT.
  2. Malaikat Jibril Menampakkan diri kepada Nabi Muhammad berupa seorang lelaki tampan, dan menyampaikan firman Allah samapi Nabi hafal benar.
  3. Wahyu datang kepadanya seperti gemerincingnya lonceng, yang dirasakan oleh Nabi Muhammad saw. sebagai cara yang paling berat. Tidak jarang sampai kening beliau berkeringat, meski turunnya wahyu itu di musim hujan.
  4. Malaikat Jibril menampakkan diri sebagaimana wujud sebenarnya, dan mengajarkan firman Allah SWT.
Ayat-ayat Al Quran diturunkan secara berangsur-angsur, dengan tujuan:
  1. Agar mudah dihafal, dimengerti, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Banyak ayat-ayat yang diturunkan merupakan jawaban dari pertanyaan atau penolakan suatu pendapat/perbuatan.
  3. Ayat-ayat diturunkan karena ketika itu terdapat peristiwa-peristiwa yang tidak dapat dipecahkan oleh Nabi Muhammad sehingga menunggu turunnya petunjuk dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril.
Ayat-ayat Al Quran yang pertama diturunkan adalah ayat 1 samapai 5 dari surat Al Alaq swaktu Nabi Muhammad berkhalwat (menyepi untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT) Sedangkan ayat terakhir yang diturunkan, adalah ayat 3 dari Surat Al Maidah diturunkan di Padang Arafah sewaktu Nabi Muhammad menjalankan ibadah Haji Wada'.


Ada beberapa tujuan diturunkannya AL Quran.

1. Sebagai pelajaran dan penerangan. Firman Allah SWT. "Al-Quran itu tidak lain adalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan." (QS. Yaa Siin: 69).

2. Sebagai pembenar kitab-kitab suci sebelumnya, yakni Taurat, Zabur, dan Injil. Firman Allah SWT. "Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) adalah Al-Kitab (Al Quran) itulah yang benar, membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya" (QS. Fathir: 31).

3. Sebagai pembimbing yang lurus. Firman Allah SWT. "Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Quran dan Dia tidak mengadakan pembengkokan (penyimpangan) di dalamnya, melainkan sebagai bimbingan yang lurus." (QS. Al Kahfi: 1-2)

4. Sebagai pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi yang meyakininya. Firman Allah SWT, "Al-Quran ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakininya." (QS. Al Jatsiyah: 20).

Fungsi lain Al-Quran yang tidak kalah penting, adalah sebagai bukti kebenaran Nabi Muhammad saw. dan bukti bahwa semua ayatnya benar-benar dari Allah SWT. Sebagai bukti kedua fungsinya yang terakhir paling tidak ada dua aspek dalam Al Quran itu sendiri:
- Isi/Kandungannya yang sangat lengkap dan sempurna
- Keindahan bahasanya dan ketelitian redaksinya
- Kebenaran berita-berita gaibnya
- Isyarat-isyarat ilmiah.

1. Isi/Kandungan Al Quran.
Isi Al Quran mencakup dan menyempurnakan pokok-pokok ajaran dari kitab-kitab Allah SWT yang terdahulu (Taurat, Injil dan Zabur). Sebagian ulama mengatakan, bahwa Al Quran mengandung 3 pokok ajaran:
a. Keimanan
b. Ahklak dan budi pekerti
c. Aturan tentang pergaulan hidup sehari-hari antar manusia

Sebagian ulama yang lain berpendapat, bahwa Al-Quran berisi dua peraturan pokok:
a. Peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT
b. Peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan sesamanya dan dengan alam sekitarnya.

Kelengkapan dan kesempurnaan isi Al-Quran ini diakui juga oleh para pakar Barat, di antaranya oleh Edward Gibbon. Ahli sejarah Inggris (1737-1794) ini mengatakan. "Al-Quran adalah sebuah kitab agama, yang membahas tentang masalah-masalah kemajuan, kenegaraan, perniagaan, peradilan, dan undang-undang kemiliteran dalam Islam. Isi Al-Quran sangat lengkap, mulai dari urusan ibadah, ketauhidan, sampai soal pekerjaan sehari-hari, mulai dari masalah rohani sampai hal-hal jasmani, mulai dari pembicaraan tentang hak-hak dan kewajiban segolongan umat sampai kepada pembicaraan tentang akhlak dan perangai serta hukum siksa di dunia.

"karena itu amat besar perbedaan Al-Quran dengan Bibel. Bibel tidak mengandung aturan-aturan yang bertalian dengan keduniaan. Yang terdapat di dalamnya hanyalah cerita-cerita untuk kesucian diri. Bibel tidak dapat mendekati Al-Quran, karena Al-Quran itu tidak hanya menerangkan sesuatu yang bertalian dengan amalan keagamaan, tetapi juga mengupas asas-asas politik kenegaraan. Al-Quranlah yang menjadi sumber peraturan negara, sumber undang-undang dasar, memutuskan suatu perkara yang berhubungan dengan kehartaan maupun kejiwaan."


2. Keindahan Bahasa dan Ketelitian Redaksi Al-Quran.
Banyak pakar baik dari Arab sendiri maupun dari Barat yang mengakui keindahan bahasa Al-Quran. Berikut kami kutipkan beberapa pendapat mereka:
- George Sale yang merintis penerjemahan Al-Quran ke dalam bahasa inggris menulis dalam kata pengantar terjemahannya, antara lain. "...Al-Quran ditulis dalam bahasa arab dengan gaya yang indah dan paling tinggi yang tidak dapat ditiru oleh pena manusia. Oleh karena itu, Al-Quran mukjizat yang besar. Berbekal mukjizat Al-Quran Muhammad muncul menguatkan tugas sucinya. Dengan mukjizat itu beliau menantang ribuan sastrawan arab yang cakap untuk menciptakan satu ayat saja yang dapat dibandingkan dengan gaya AL-Quran". Di bagian kata pengantarnya, ia menulis. "Sangan luar biasa dampak kekuatan kata-kata (Al-Quran) yang dipilih dengan baik dan ditempatkan dengan seninya, yang dapat menumbuhkan gairah dan rasa kagum orang yang membacanya."

- Seorang sastrawan arab yang masyur, Mustafa Shadiq Ar Rafi'ie mengakui antara lain, "Tuhan menurunkan Al-Quran dalam bahasa ini (arab, pen.) dengan susunan tersendiri, membuat orang tidak berdaya menirunya, baik susunan (ayat-ayatnya, pen.) yang pendek maupun yang panjang. ...karena dia adalah pembersihan bahasa dan kekotorannya."

- Dr. Thaha husein, sarjana Mesir yang sangat terkenal di dunia Barat mengakui. "Kata-kata terbagi tiga, yakni puisi, prosa dan Quran. Akan tetapi Quran memiliki gaya tersendiri, bukan puisi dan bukan prosa. Quran adalah Quran. Ia tidak tunduk pada aturan prosa dan puisi. Ia memiliki irama sendiri yang dapat dirasakan pada susunan lafalnya dan urutan ayatnya."

Tentu saja hanya orang yang memahami bahasa Arab yang dapat merasakan keindahan bahasa Al-Quran. Sebagaimana ditegaskan oleh Dr. M. Quraish Shihab dalam bukunyaMembumikan Al-Quran, bahwa tidak mudah untuk mengetahui keindahan bahasa Al-Quran khususnya bagi kita yang tidak memahami dan tidak memiliki "rasa bahasa" Arab -- karena keindahan diperoleh melalui "perasaan", bukan melalui nalar. Namun demikian, menurut M. Quraish Shihab ada satu atau dua hal menyangkut redaksi Al Quran yang dapat membantu pemahaman aspek pertama ini.

"Seperti diketahui, seringkali AL-QUran "turun" secara spontan, guna menjawab pertanyaan atau mengomentari peristiwa. Misalnya pertanyaan orang Yahudi tentang hakikat ruh. Pertanyaan ini dijawab secara langsung, dan tentunya spontanitas tersebut tidak memberi peluang untuk berpikir dan menyusun jawaban dengan redaksi yang indah apalagi teliti. Namun demikian setelah Al-Quran rampung diturunkan dan kemudiandilakukan analisa serta perhitungan terhadap redaksi-redaksinya, ditemukanlah hal-hal yang sangat menakjubkan. Ditemukan antara keseimbangan yang sangat serasi antara kata-kata yang digunakannya, seperti keserasian jumlah dua kata yang bertolak belakang."

Untuk membuktikan adanya keseimbangan kata yang digunakan dalam Al-Quran, Dr. M. Quraish Shihab mengambil contoh dari Al I'jaz Al Adabiy li Al Quran Al Karim karya Abdurrazaq Nawfal. Beberapa di antaranya, adalah:
a. Keseimbangan kata yang bertolak belakang.
- Kata al-hayah (hidup) dan al-maut (mati), masing-masing disebut 145 kali
- Kata al-naf' (manfaat) dan al-madharrah (mudarat) masing-masing disebut 50 kali
- Kata al-har (panas) dan Al-bard (dingin), masing-masing disebut 4 kali.
- Kata al-shalihat (kebajikan) dan al-sayyi'at (keburukan), masing-masing disebut 167 kali
- Kata al-Thuma'ninah (kelapangan/ketenangan) dan al-dhiq (kesempitan/kekesalan), masing-masing 13 kali
- Kata al-rahbah (cemas/takut) dan al-raghbah (harap/ingin), masing-masing 8 kali
- Kata al-kufr (kekufuran) dan al-iman (iman), masing-masing disebut 17 kali
- Kata kufr (kekufuran) dan iman (iman) dalam bentuk indifinite, masing-masing 8 kali
- Kata al-shayf (musim panas) dan al-syita' (musim dingin) masing-masing disebut 1 kali.

b. keseimbangan jumlah kata dengan sinonimnya (dua kata yang artinya sama).
- Al-harts dan al-Zira'ah (membajak/bertani), masing-masing disebut 14 kali
- Al-'ushb dan al-dhurur (membanggakan diri/angkuh), masing-masing disebut 27 kali
- Al-aql dan al-nur (akal dan cahaya), masing-masing disebut 49 kali
- Al-jahr dan al-'alaniyah (nyata), masing-masing disebut 16 kali

c. Keseimbangan antara jumlah kata dengan jumlah kata yang menunjuk kepada akibatnya.
- Al-infak (infak) dengan al-ridha (kerelaan), masing-masing disebut 73 kali
- Al-bukhl (kekikiran) dengan al-hasanah (penyesalan), masing-masing disebut 12 kali
- Al kafirun (orang-orang kafir) dengan al-nar/al-ahraq (neraka/pembakaran) masing-masing 154 kali
- Al Zakah (zakat/penyucian) dengan al-barakat (kebajikan yang banyak, masing-masing disebut 32 kali
- Al- fahisyah (kekejian dengan al-ghadb (murka), masing-masing disebut 26 kali

d. Keseimbangan jumlah kata dengan kata penyebabnya.
- Kata al-israf (pemborosan) dengan al-sur'ah (ketergesa-gesaan, masing-masing disebut 23 kali
- Kata al-maw'izhah (nasihat/petuah) dengan al-lisan (lidah), masing-masing disebut 25 kali
- Kata al-asra (tawanan) dengan al-harb (perang), masing-masing disebut 6 kali
- Kata al-salam (kedamaian) dan al-thayyibat (kebajikan), masing-masing disebut 60 kali

e. Di samping keseimbangan-keseimbangan tersebut, ditemukan juga keseimbangan khusus.

  1. Kata yawm (hari) dalam bentuk tunggal sejumlah 365 kali sebanyak hari-hari dalam setahun. Sedangkan kata hari yang menunjuk kepada bentuk plural (ayyam) atau dua (yawmayni), jumlah keseluruhannya hanya tiga puluh, sama dengan jumlah hari dalam sebulan. Di sisi lain, kata yang berarti "bulan" (syahr) hanya terdapat dua belas kali, sama dengan jumlah bulan dalam setahun.
  2. Al-Quran menjelaskan bahwa langit ada "tujuh"
  3. Kata-kata yang menunjuk kepada utusan Tuhan, baik rasul (rasul), atau nabiyy (nabi), atau basyir (pembawa berita gembira), atau nadzir (pemberi peringatan), keseluruhannya berjumlah 518 kali. Jumlah ini seimbang dengan jumlah penyebutan nama-nama Nabi, Rasul dan Pembawa berita tersebut, yakni 518 kali.

3. Kebenaran berita-berita gaibnya, salah satunya tentang Fir'aun.
Dalam surat Yunus dikisahkan tentang Fir'aun yang tenggelam sewaktu mengejar-ngejar Nabi Musa as. Ditegaskan pula bahwa "Pada hari ini Kami selamatkan badanmu (Fir'aun), supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang sesudahmu." (QS. Yunus: 90). Dan Firman Allah SWT benar adanya. Ahli purbakala, Loret pada tahun 1896 menemukan satu mumi di Lembah raja-raja Luxor Mesir, yang dari data-data sejarah terbukti bahwa ia adalah Fir'aun yang bernama Maniptah dan yang pernah mengejar Nabi Musa as. Sampai sekarang tubuh Fir'aun dalam keadaan utuh di Museum Kairo. Siapa pun yang berkunjung ke sana dapat menyaksikannya.


4. Isyarat-isyarat Ilmiahnya.
Dalam AL-Quran banyak isyarat-isyarat ilmiah. DIuraikan oleh Dr. M. Quraish Shihab dalam bukunya "Membumikan" Al-Quran. Banyak sekali isyarat ilmiah yang ditemukan dalam Al Quran. Misalnya diisyaratkan bahwa "Cahaya matahari bersumber dari dirinya sendiri, sedangkan cahaya bulan adalah pantulan (dari cahaya matahari)" (perhatikan QS. 10:5). Atau bahwa jenis kelamin anak adalah hasil sperma pria, sedang wanita sekadar mengandung karena mereka hanyalah bagaikan "ladang" (QS. Al Baqarah: 223), dan masih banyak lagi lainnya yang kesemuannya belum diketahui manusia, kecuali pada abad-abad bahkan tahun-tahun terakhir ini. Dari manakah Muhammad mengetahuinya, kalau bukan dari Dia, Allah SWT Tuhan Yang Maha Mengetahui.
Advertisement